Raih Doktor Cumlaude, Mukti Ali Buktikan Bahwa Tukang Semir Sepatu Juga Mampu Wujudkan Mimpi

Mukti Ali (kanan)

SUMSEL TERBARU – Sosok Mukti Ali yang dikenal oleh banyak orang sebagai tukang semir sepatu di kawasan simpang bandara kali ini resmi menyandang gelar Doktor dengan predikat Cumlaude dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia.

Mukti, pria sederhana yang lahir dan besar di Palembang ini mulai bekerja sebagai tukang semir sepatu sejak usia 9 tahun. Pekerjaan ini dilakoninya untuk membantu ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Setiap hari, Mukti duduk di trotoar Simpang Polda menjual koran sehabis sekolah, setelah itu menyemir sepatu pelanggannya dengan senyum ramah dan pelayanan yang penuh dedikasi disekitaran lampu merah bandara Palembang.

Bahkan ia juga sempat jualan pempek dan menjadi kernet bus kota jurusan Kertapati-KM 12 hingga malam hari.

Namun, di balik kesederhanaan dan ketekunan itu, Mukti menyimpan mimpi besar yang selalu ia perjuangkan. Setelah seharian bekerja, ia tak pernah lelah untuk belajar di malam hari.

Buku-buku bekas dan materi belajar dari internet menjadi teman setianya. Mukti bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, suatu impian yang tampak sulit dicapai mengingat kondisi ekonomi keluarganya.

Ketika selesai SD Mukti mendapatkan beasiswa dari ayah angkatnya H. Rivai Hasan Basri adik kandung dari H. Ramli Hasan Basri yang begitu sayang melihat kegigihannya dalam belajar, sehingga melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Qodratullah Banyuasin, selama 6 tahun lamanya orang tua angkatnya begitu memberikan kasih sayang sama seperti anak kandung sendiri.

Dengan tekad yang kuat dan semangat pantang menyerah, Mukti berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah berkat prestasi akademisnya yang gemilang. Ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana dengan predikat cumlaude. Tak berhenti sampai di situ, Mukti melanjutkan studinya ke jenjang S2 dan akhirnya meraih gelar Doktor.

Pada usia 39 tahun, Mukti Ali akhirnya berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat Cumlaude dari Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Program Studi Pendidikan Agama Islam pada ujian Promosi (28/11/2024). Disertasi doktoralnya yang berjudul “Konstruksi Pendidikan Adab Melalui Hidden Curicculum di Pondok Pesantren Qodratullah, Banyuasin, Sumatera Selatan” mendapatkan apresiasi tinggi dari para akademisi dan praktisi. Karya ilmiahnya dianggap memberikan kontribusi signifikan dalam bidang Pendidikan Islam.

Proses Ujian sendiri diuji langsung dihadapan Promotor Prof. Drs. M. Sirozi. MA. Ph. D., Prof. Dr. Munir. M.Ag., dengan Ketua Penguji Prof. Dr. Muhammad Adil. MA., Seketaris Dr. Indah Wigati, M.Pd.I., dan para Penguji Prof. Dr. Saupul Annur, M.Pd. Prof. Dr. Amilda. MA,. Prof. Dr. Ahmad Zainuri, M.Pd. Prof. Dr. Abdurraghmansyah. M.Ag. ujian berlangsung dengan khidmat dihadapan para kolega dan tamu undangan yang hadir di aula sidang terbuka Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.

Kisah Mukti Ali bukan hanya tentang keberhasilan akademis, tetapi juga tentang bagaimana mimpi dan semangat juang dapat mengubah nasib seseorang. Mukti menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang berada dalam keterbatasan. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras, tekad yang kuat, dan doa, tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai.

Kini, Mukti Ali aktif sebagai dosen ASN di Universitas UIN Raden Fatah dan sekaligus menjabat sebagai Seketaris Lembaga Penjamin Mutu dan juga sebagai pembicara motivasi. Ia sering berbagi kisah hidupnya di berbagai seminar dan workshop, menginspirasi banyak orang untuk tidak pernah menyerah pada mimpi mereka. Mukti juga mendirikan lembaga yang fokus pada pemberdayaan anak-anak jalanan dan memberikan beasiswa bagi mereka yang berprestasi namun kurang mampu.

Kehadiran Mukti Ali di dunia akademis dan sosial membawa angin segar bagi masyarakat. Ia adalah contoh nyata bahwa pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan dan meraih kehidupan yang lebih baik.

“Saya ingin anak-anak jalanan di Palembang dan di seluruh Indonesia tahu bahwa mereka juga bisa mencapai mimpi mereka, tidak peduli seberapa besar rintangan yang ada di depan mereka,” kata Mukti.

“Saya selalu berpegang kepada dawuh dari guru saya Prof Kiyai Munir dari dulu hingga sekarang menjadi pegangan saya, bahwa Jangan Pernah Sekalipun berprasangka buruk dengan guru, karna itu adalah bagian dari hidup dan matinya keberkahan ilmu” ucapnya.

Mukti Ali pun terlihat mengharu biru setelah pemindahan kuncir di akhir sidang. Kisah Mukti Ali menjadi bukti bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada jalan untuk meraih kesuksesan.

Dengan semangat dan dedikasi yang tak pernah padam, ia berhasil mengubah hidupnya dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Sebagai seorang tukang semir sepatu yang kini menjadi Doktor, Mukti Ali telah menunjukkan bahwa mimpi besar dapat terwujud dengan kerja keras dan tekad yang kuat. (Ryd)