SUMSEL TERBARU – Aksi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang yang menyuarakan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Sumatera Selatan mulai menuai sorotan lain.
Bukan hanya soal substansi tuntutan mahasiswa, tetapi juga muncul dugaan adanya pihak tertentu yang turut mengambil peran di balik aksi tersebut.
Isu keterlibatan oknum aparatur sipil negara (ASN) yang berstatus dosen di lingkungan UIN Raden Fatah bahkan mulai menjadi perbincangan. Dugaan itu kemudian memunculkan istilah “masuk angin”, yang dikaitkan dengan kemungkinan adanya pihak tertentu yang ikut memengaruhi atau mengarahkan gerakan mahasiswa.
Namun demikian, sampai saat ini belum terdapat bukti terbuka yang dapat memastikan bahwa aksi tersebut digerakkan atau dimotori oleh oknum dosen ASN tertentu.
Sorotan terhadap dinamika tersebut turut disampaikan M. Eko Wahyudi, SE, dari Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII).
Dalam pernyataannya, Eko menyayangkan apabila terdapat pihak-pihak tertentu yang justru mencoba mencari kepentingan di tengah gerakan mahasiswa.
“Sangat menyayangkan, apalagi ada yang coba-coba cari point,” ujar M. Eko Wahyudi.
Pernyataan tersebut menambah perhatian terhadap dugaan adanya kepentingan lain di balik aksi yang secara terbuka membawa isu karhutla dan kabut asap.
Jika benar terdapat pihak lain yang ikut memengaruhi gerakan mahasiswa, publik tentu berhak mengetahui siapa, dalam kapasitas apa, serta untuk kepentingan apa keterlibatan tersebut dilakukan.
Sebaliknya, jika aksi tersebut murni lahir dari keresahan mahasiswa terhadap persoalan karhutla, maka tudingan mengenai adanya “penumpang gelap” atau upaya mengarahkan gerakan juga perlu dibuktikan agar tidak menjadi tuduhan tanpa dasar.
Karena itu, konteks keterlibatan ASN, termasuk dosen, harus dilihat secara utuh. Status sebagai ASN tidak serta-merta membuktikan adanya pelanggaran, sementara dugaan keterlibatan dalam sebuah aksi juga tidak dapat disimpulkan tanpa fakta dan klarifikasi yang memadai.
Publik kini menunggu penjelasan.
Apakah aksi mahasiswa UIN Raden Fatah tersebut sepenuhnya lahir dari keresahan mahasiswa terhadap persoalan karhutla dan kabut asap? Ataukah memang ada pihak lain yang turut memainkan peran di belakang layar?
Pihak UIN Raden Fatah diharapkan dapat memberikan klarifikasi apabila memang terdapat informasi mengenai dugaan keterlibatan dosen dalam aksi tersebut.
Di sisi lain, aspirasi mahasiswa terkait karhutla tetap menjadi persoalan publik yang penting. Kritik terhadap penanganan karhutla, dampak kabut asap terhadap masyarakat, serta transparansi kebijakan pemerintah merupakan isu yang tetap layak mendapat ruang.
Pada akhirnya, yang ditunggu bukan sekadar siapa yang paling lantang bersuara, tetapi apakah suara tersebut benar-benar lahir dari keresahan mahasiswa atau ada kepentingan lain yang ikut menunggangi gerakan tersebut.***













